Kamis, 12 Mei 2011

Sejarah Kedatuan Luwu

A. Awal Munculnya Kedatuan Luwu
Luwu merupakan kerajaan tertua, khususnya di Sulawesi-selatan .Ada beberapa pendapat yang menjelaskan tentang makna kata luwu,diantaranya luwu bermakna “bumi” atau “wilayah” ataupun luwu bermakna “riulo” (bahasa bugis kuno) yang berarti “diulur, lalu dihamparkan dan ditaburi dengan kekayaan alam yang melimpah dan menjadi satu daerah ata kerajaan pusaka (onko).
Pemaknaan ini dapat dilihat pada pemaknaan epos Galigo yang menceritakan awal mula diturunkannya La Toge’ Langi’ yang diyakini sebagai manusia pertama dalam mitologi masyarakat Sulawesi selatan khususnya Luwu (bugis).
Selain itu, berdasarkan tradisi yang berkembang di masyarakat luwu, terdapat pula beberapa pengungkapan tentang entitas luwu, diantaranya:
• Tana ri’ gella’ mai ri luwu, lipu ri ongko ri sabbangparu (luwu adalah tanah yang dihampar negeri pusaka di sabbangparu)
• Luwu makkebeuangi punnai usoro, riebarai makkunrai, madeceng abatireng, madeceng ampe napatumangi (Luwu diumpamakan sebagai wanita yang baik asal-usulnya, baik perangainya dan patuh serta berbakti). Maksudnya, Luwu adalah suatu daerah yang subur yang mempunyai banyak kekayaan, baik dipermukaan bumi maupun di perut bumi.
Berdasarkan epos Galigo, kedatuan luwu diperkirakan muncul sekitar abad X masehi (pendapat lain IV masehi). Pada masa pemerintahan La Toge’ Langi’ atau Batara Guru yang dianggap manusia pertama dalam kepercayaan masyarakat Luwu (Bugis kuno). Dengan diturunkannya La Toge’ Langi’, peradaban masyarakat, khususnya di Sulawesi Selatan mulai berkembang dan menjadi stereotype bagi kehidupan masyarakat selanjutnya.
Selain itu, beberapa pendapat, termasuk ilmuwan asing, seperti Belanda juga sepakat mengatakan bahwa Luwu (Ware’) merupakan pusat peradaban Bugis dan termasuk merupakan sumber bahasa Bugis.
Kedatuan Luwu yang berdiri berabad-abad lalu, sejak periode awal munculnya telah berperan penting dalam membangun tatanan masyarakat di beberapa wilayah. Wilayah-wilayah tersebut, utamanya di Sulawesi Selatan bahkan kerap menghubungkan keturunanannya (raja-rajanya) atau keberadaan kerajaannya dengan penguasa-penguasa di Luwu seperti Batara Guru, Batara Lattu’, Sawérigading, atau La Galigo, bahkan sehingga Patotoé. Gorontalo di sebelah utara, Selayar di sebelah selatan, Buton di sebelah timur, dan Mandar di sebelah barat. Serta seluruh Sulawesi, bahkan juga berkaitan dengan beberapa daerah di Semenanjung Melayu merupakan bagian terkecil dari persebaran pengaruh Luwu di masa lampau.
Dari kronik-kronik yang terbesar di berbagai daerah ini, kedudukan Luwu sebagai sebuah wilayah yang sangat penting dan berpengaruh pertumbuhan kerajaan yang bersangkutan, sangat nampak. Tokoh Sawérigading, La Galigo, dan beberapa tokoh lainnya dari tanah Luwu telah mengambil peran yang sangat penting dalam membentuk berbagai pranata di wilayah tersebut.
Sejarah dan kebudayaan Luwu memang tidak lepas dai karya terbesar yang dikenal juga dengan nama Sure’ Galigo. Selain itu, sumber tertulis lainnya juga berasal dari kitab Nagarakertagama karya Mpu Prapanca (1365) dari Kerajaan Majapahit. Kedua kitab merupakan sumber tertulis tertua mengenai Luwu. Diantaranya dalam kitab Nagarakertagaman ini berbunyi;
“Murwah tanah 1 Bantayan pramuka Bantayan le Luwuk adamaktrayathi mikanang sanusaspupu! Ikang sakasanusa Makassar, Batun, Banggawi, Kuni Craliyao mw angi (mg), Selaya, Sumba (ni)” (Pigeyaut, 1962)
Nama Luwuk dalam keterangan tersebut merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut suatu tempat yang ada kaitannya dengan usaha memperoleh bahan baku logam, utamanya untuk pembuatan senjata-senjata pusaka dahulu, Luwu telah terkenal sebagai penghasil besi yang sangat bagus untuk bahan membuat senjata pusaka. Luwu dikenal juga memiliki kualitas senjata tajam sangat bagus yang kemudian dikenal dengan ‘pamor Luwu’.
Pengaruh Luwu pada masa awal kemunculannya sangatlah besar. Oleh orang Bugis –Makassar bahkan menganggap bahwa Tanah Luwu dan Ware’ sebagai Bugis tertua dan meliputi semua negeri di wilayah Sulawesi Selatang, Tenggara, Tengah, dan Utara, yakni semua negeri Bugis, Makasaar, Toraja, Mandar, Poso, Kolaka, dan seluruh persekutuan kaum lainnya di jazirah Sulawesi.
Jika silsilah keturunan mereka ditelusuri, maka akan bermuara di Luwu. Silsilah mereka akan sampai pada Sawérigading, Batara Lattu, Batara Guru, dan berakhir pada pasangan Patotoé dan Datu Palingé. Keterangan tersebut di atas menunjukkan bahwa Luwu merupakan sumber tumbuh dan berkembangnya kerajaan-kerajaan yang ada di jazirah Sulawesi dan sekaligus memperlihatkan pengaruh politiknya yang cukup kuat.
A. Pusat-pusat Kedatuan Luwu
Sejak berdirinya sebagai sebuah kerajaan, kedatuan Luwu mempunyai beberapa pusat-pusat kerajaan (ibukota kerajaan). Meski demikian, Ware’ yang dalam kitab Galigo dikenal sebagai ibukota kedatuan Luwu, sejak awal berdirinya sampai pada masa pemerintah Kedatuan Luwu yang terakhir masih digunakan sebagai nama ibukota kerajaan.
Ware’ adalah pusat Tana Luwu atau pusat pemerintahan Kedatuan Luwu yang diangap sebagai daerah istimewa oleh masyarakat Luwu. Masyarakat yang tinggal dalam pusat pemerintahan Kedatuan Luwu mempunyai kebanggaan tersendiri sebagai orang Ware’. Sepanjang sejarah Kedatuan Luwu, diperkirakan dikenal enam Ware’, yaitu:
1. Ware’ I, berlangsung sebelum masa periode Galigo yang diperkirakan sekitar abad X Masehi. Fase ini dikenal sebagai masa Luwu purba yang berlangsung selama ratusan tahun. Masa ini diyakini juga sebagai masa berkuasanya keturunan dewa-dewa yang dipercaya oleh masyarakat sebagai cikal bakal raja-raja dan berdirinya kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan. Dalam Sure’ Galigo disebutkan beberapa nama yang sangat berperan pada masa tersebut, yakni Batara Guru (Datu/Pajung I), Batara Lattu’ (Datu/Pajung II), Sawerigading, I La Galigo, dll.
2. Ware’ II, berlangsung sekitar abab XIII masehi. Fase ini dikenal sebagai masa atau periode lontara’. Pada masa ini telah berkuasa Simpurusiang, namun masih dianggap keturunan dewa dan menjadi raja (PajungDatu Luwu I) pada masa lontara’ . Masa berkuasanya diperkirakan antara 1268-1293 Masehi.
3. Ware’ III, berlangsung sekitar awal abad XIV M. masa ini, Ware’ dipindahkan oleh Anakaji (Pajung/Datu Luwu IV) ke Mancapai, dekat Lelewawu sebeah selatan Danau Towuti.
4. Ware IV, berlangsung sekitar abad XVI M, pada masa pemerintahan Dewa Raja (Datu/Pajung Luwu XI) yang memerintahan antara 1507-1541. Ia memindahkan wilayah Ware’ ke Kamanre di tepi sungai Noling.
5. Ware’ V, berlangsung sekitar abab XVI M. Pada periode ini diperkirakan Wé Tendri Rawé (Datu/Pajung Luwu XIV) yang berkuasa sekitar 1571-1587 memindahkan Ware’ ke Pao wilayah Pattimang-Malangke
6. Ware’ VI, berlangsung pada awal abad XVII M. Ketika itu Malangke mulai surut, sehingga pada masa pemerintahan Pati Pasaung Petta Matinroé Ri Judda (Datu/Pajung Luwu XVI) yang memerintah antara tahun 1615-1637, diperkirakan memindahkan wilayah Ware’ ke Palopo sekitar tahun 1619 M.
Dalam perkembangan selanjutnya, nama Ware’ diperkirakan diambil untuk sebutan Wara, wilayah yang kini menjadi pusat Kota Palopo. Wara berarti melintang, mencegah, atau palang merupakan daerah yang menjadi pusat penyebaran Islam di Sulawesi Selatan setelah Malangke.
Menurut beberapa sumber klasik, Ware’ diperkirakan mengalami perkembangan yang pesat setelah Kedatuan Luwu pindah dari Malangke. Libukang yang pada awalnya menjadi pusat keramaian kemudian berpindah ke Ware’ (Palopo) ibukota baru Kedaulatan Luwu. Wilayah inipun berkembang menjdai perkampungan yang merupakan awal pemukiman masyarakat pada era pra-Islam yang kemudian dalam perkembangannya berganti nama menjadi Kota Palopo.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar